BIJAK KONSUMSI ANTIBIOTIK

Standard

2“Hantam saja pakai antibiotik, pasti sembuh!” begitu sering kita dengar nasihat teman atau kerabat saat kita atau salah satu anggota keluarga diserang sakit, entah batuk pilek atau influenza. Bahkan, tak jarang dokter pun selalu meresepkan antibiotik. Benarkah antibiotik itu “dewa obat” bagi kesembuhan pasien?

Mari kita mengenal lebih jauh tentang obat yang pertama kali ditemukan oleh Alexander  Flemming ini.

APAKAH ANTIBIOTIK ITU?

Antibiotik dibuat sebagai obat derivat yang berasal dari makhluk hidup atau mikroorganisme, yang dapat mencegah pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik diperoleh dari hasil isolasi senyawa kimia tertentu yang berasal dari mikroorganisme seperti jamur, actinomycetes, bakteri. Akan tetapi, tidak semua makhluk hidup dapat dijadikan antibiotik, karena antibiotik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Harus efektif pada konsentrasi rendah.
  2. Harus dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh satu atau lebih jenis mikroorganisme.
  3. Tidak boleh memiliki efek samping bersifat toksik yang signifikan.
  4. Harus efektif melawan patogen.
  5. Harus dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan aktivitasnya.
  6. Harus dapat dieliminasi dari tubuh secara sempurna setelah pemberian dihentikan.
  7. Harus bersifat sangat stabil agar dapat diisolasi dan diproses dalam dosis yang mudah diserap tubuh.

 VIRUS ATAU BAKTERI?

Yang penting untuk Anda ketahui bahwa antibiotik bukan asupan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus. Antibiotik hanya berguna bila terjadi infeksi oleh bakteri. Hal ini sudah ada bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Infeksi virus tergolong dalam “self limiting disease” artinya penyakit yang sembuh dengan sendirinya akibat perlawanan dari sistem imunitas tubuh. Jadi penyakit infeksi akibat virus seperti radang tenggorokan, dan diare sangat tidak disarankan mengonsumsi antibiotik. Antibiotik akan bereaksi positif apabila ada bakteri jahat, Bila bakteri jahat tersebut tidak sedang “bekerja” menyerang tubuh, antibiotik akan membunuh bakteri baik yang seharusnya berfungsi bagi kelangsungan hidup, Efek lainnya adalah  menggerogoti sistem kekebalan tubuh. Dengan kata lain, bila Anda terlalu sering mengonsumsi antibiotik justru akan menyebabkan Anda sering sakit.

Yang terjadi selama ini justru makin maraknya pemakaian antibiotik, seakan menjadi tren di hampir semua kalangan yang terserang penyakit. Dengan begitu kepercayaan terhadapnya mengarah pada pemakaian yang berlebihan. Banyaknya jumlah antibiotik yang telah Anda konsumsi akan bereaksi di dalam tubuh dan menyerang sistem kekebalan tubuh yang berakibat sakit Anda memiliki kontinuitas (berkelanjutan) yang lebih lama. Penyakit seperti kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, gangguan pencernaan, dan gangguan napas kerap menjadi ancaman dari obat yang sering diresepkan dokter itu.

Berdasarkan jenisnya Antibiotik  juga memiliki dampak lainnya yang lebih mengancam seperti:

  • Antibiotik jenis kloramfenikol, dapat menekan sumsum tulang. Apabila ini terjadi maka produksi sel-sel darah akan menurun.
  • Antibiotik jenis eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamide, dapat menimbulkan kelainan hati.
  • Antibiotik jenis amoxicillin dapat menyebabkan peradangan hati (allergic hepatitis)
  • Antibiotik jenis aminoglycoside, imipenem / meropenem, ciprofloxacin bisa menyebabkan gangguan ginjal.

KAPAN PERLU ANTIBIOTIK?

Antibiotik diperlukan ketika bila terserang infeksi yang disebabkan oleh bakteri/kuman. Dokter akan meresepkan suatu jenis antibiotik berdasarkan pertimbangan : (1) jenis kuman (dapat dilihat dari hasil biakan di laboratorium), (2) keamanan termasuk efek sampingnya, (3) ada tidaknya interaksi obat, (4) data klinis sebelumnya, dan (5) biaya.

Berikut beberapa penyakit yang biasanya membutuhkan antibiotik :

  • Sebagian infeksi telinga (sebagian besar infeksi telinga pada bayi/anak tidak perlu antibiotik karena umumnya merupakan komplikasi flu/selesma).
  • Infeksi sinus berat ( 2 minggu, sakit kepala hebat, pembengkakan wajah)
  • Radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus
  • Infeksi saluran kemih
  • Tifus
  • Tuberkulosis
  • Diare akibat amoeba hystolytica

RAMBU-RAMBU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK

Habiskan semua antibiotik yang diresepkan. Biasanya antibiotik diresepkan untuk 3 hingga 5 hari. Jadi meski kondisi si sakit terlihat membaik dalam waktu 2 hari, tetap teruskan konsumsi antibiotik dalam satu periode pengobatan. Bila pemakaiannya terhenti di tengah jalan, bisa jadi tidak seluruh bakteri akan mati, sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut. Hal ini dapat menimbulkan masalah serius bila bakteri yang resisten berkembang sehingga menyebabkan infeksi ulang.

  • Perhatikan jarak waktu antarpemakaian. Contoh antibiotik yang diresepkan 2 kali sehari harus diminum dalam jangka waktu 12 jam. Sementara yang 3 kali selang waktu minumnya setiap 8 jam. Antibiotik yang diresepkan 4 kali sehari diminum per 6 jam. Ini untuk memastikan antibiotik tersebut senantiasa ada di dalam tubuh yang bersangkutan.
  • Jangan abaikan instruksi, jadi bila diminta untuk diminum sesudah atau sebelum makan ya mesti dituruti. Pemakaian yang kurang tepat akan memengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya akan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya.
  • Waspadai pemakaian bersamaan dengan obat lain karena bisa terjadi interaksi obat. Untuk itu berikan informasi. kepada dokter dan apoteker tentang semua obat-obatan yang sedang dipakai sewaktu menerima pengobatan dengan antibiotik (baik itu obat bebas maupun obat yang diresepkan).
  • Hindari mengonsumsi antibiotik berbarengan dengan cairan prebiotik, seperti yogurt (yang mengandung bakteria baik). Jangan lupa, antibiotik membunuh semua kuman jahat maupun yang baik.
  • Hubungi dokter Anda segera begitu si kecil menampakkan reaksi setelah mengonsumsi antibiotik, gatal-gatal misalnya. Biasanya dokter akan meresepkan antibiotik dari jenis lain.

CARA KERJA ANTIBIOTIK

Secara garis besar antibiotik secara garis besar dibagi 2 kelompok. Antibiotik spektrum sempit (hanya bisa membunuh kuman tertentu) dan antibiotik spektrum luas (bisa membunuh berbagai kuman, termasuk kuman yang ganas). Ini berarti, suatu antibiotik tidak dapat membunuh semua kuman. Bila salah pilih, maka antibiotik itu akan mubazir dan penyakitnya malah bisa menjadi lebih parah. Sebaliknya kalau cocok, maka akan cespleng.

Selain itu, mengonsumsi antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh bakteri yang justru diperlukan tubuh, dan bisa terjadi gangguan sistem biokimia dalam tubuh. Efek lainya, bisa mengganggu sistem ekskresi tubuh, Dalam hal ini gangguan terhadap fungsi ginjal, mengingat bahan aktif utama senyawa antibiotik tertentu bersifat nefrotoksik atau racun bagi fungsi sistem ginjal.

Jumlah antibiotik yang sudah direncanakan harus dihabiskan untuk mentuntaskan penyembuhan. Namun, bila antibiotik tidak diberikan untuk penyakit yang benar membutuhkannya, maka penghentian pemberian antibiotik tidak akan menimbulkan akibat buruk.

Sumber: www.anakcerdascerebrofort.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s